Northern Territory – The Outback Roadtrip

Here I come again! Setelah membahas tentang wisata Darwin, Litchfield dan Kakadu, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang daerah misterius lainnya di Australia, yang berlokasi di tengah-tengahnya Australia, jauh dari yang namanya daerah perairan, yaitu daerah Alice Spring dan Ayers Rock. Alice Spring, yang merupakan kota terbesar kedua di Northern Territory,  berjarak kurang lebih 1,500 km dari Darwin. Jarak ini melebihi jarak perjalanan road trip dari Jakarta menuju Bali sebanyak kurang lebih 1100 km. Kamu sekarang bisa bayangkan bukan,kalau Australia itu memang layak disebut benua, dan traveling di Australia selama 10 hari hanya bisa meng-“capture”- kulit-kulitnya saja. Tidak banyak pesawat yang landing di Alice spring ini, dan bandaranya pun jauh dari keramaian. Dari Darwin sendiri hanya ada 2 penerbangan langsung menuju Alice Spring, Qantas airline dan Virgin Australia dengan fare price sekitar $200-$400 one way. Dan, jangan pernah tanya yah, apakah ada direct flight dari Indonesia? tidak ada!, kamu harus transit di kota-kota besarnya Australia sebelum tiba di Alice Spring. Selain ditempuh dengan jalan darat dan pesawat, Alice Spring bisa ditempuh dengan kereta wisata “The Ghan” yang mengkoneksikan Australia dari utara ke selatan, dari kota Darwin di utara ke kota Adelaide di Selatan Australia, begitupula sebaliknya. Moda tranportasi “The Ghan” ini merupakan moda transportasi termahal untuk mengeksplore red centernya Australia.

Berbeda dengan Darwin yang memiliki iklim tropis 2 musim, Alice spring memiliki iklim gurun 4 musim dengan musim panas yang menyengat dan kering dan musim dingin yang kering dengan diselingi hujan rintik-rintik. Waktu terbaik untuk mengunjungi Alice Spring ini adalah dari bulan May sampai dengan October. Ketika Sydney, Melbourne, Perth dan Brisbane sangat nyaman untuk dikunjungi di saat summer, justru Alice Spring dan seluruh wilayah Australia center ini, konon, kurang nyaman dikunjungi ketika summer. Ingat yah, bulan summernya Australia itu berkebalikan dengan bulan summernya negara-negara di bumi bagian utara, summernya Australia itu bulan November sampai dengan Februari ketika negara-negara di eropa dan amerika utara sana sedang dilanda oleh salju. Alice spring merupakan salah satu pintu menuju salah satu tempat wisata paling terkenal di Australia yakni Uluru National Park. Lah mengapa salah satu pintu?, yah karena memang ada pintu yang lain menuju taman national yang terkenal dengan batu besar merah menjulangnya ini, yakni kota ayers rock yang berjarak 463 km dari kota Alice Spring. Ayers Rock ini bisa ditempuh juga dengan pesawat terbang dari kota-kota besar  di Australia. Dibandingkan Alice Spring, kota Ayers Rock ini lebih dekat menuju ke pintu gerbang taman nasional Uluru, namun fasilitas akomodasi jauh lebih sedikit daripada Alice Spring, dan jangan harap melihat supermarket Coles atau Woolworths di Ayers Rock ini. Kondisi yang serba terbatas ini membuat harga akomodasi di Ayers Rock sedikit lebih mahal dibandingkan dengan akomodasi di Alice Spring. IMG_3477

Saat itu saya memiliki beberapa opsi untuk mengunjungi Red Center Australia,opsi pertama join dengan mobil backpacker yang memiliki niat sama untuk melakukan road trip sampai dengan Uluru lalu kembali ke Darwin dengan pesawat dari Ayers rock/Alice Spring , opsi kedua mengikuti one way road trip organized tour  dari Darwin sampai Uluru dan kembali ke Darwin dengan Pesawat atau opsi terakir naik pesawat return Darwin-Alice Spring-Darwin dan hanya melakukan roadtrip Alice Spring- Ayers Rock-Uluru-Alice Spring. Setelah mempertimbangkan waktu yang saya punya, efisiensi biaya dan tingkat kepuasan traveling, saya pun memilih opsi kedua. Mulailah saya membanding-bandingkan beberapa organized tour operator yang bisa mengakomodasi pilihan saya ini. Bisa dibilang pilihan ini bukanlah pilihan termurah, namun saat itu saya sudah mulai bekerja dan  hanya punya waktu libur seminggu dan saat itu saya ingin merayakan ulang tahun saya dengan menghadiahi diri saya sendiri dengan sebuah “Birthday trip”. Ya sudah lah tak apa-apa, ini kan dalam rangka merayakan ulang tahun, jadi tidak apa-apa investasi kebahagian dan kesehatan jiwa setelah lelah bekerja fisik, dan saya ingin melakukan perjalanan yang hassle-free, tanpa harus membuat itinerary dan mendapatkan “pelayanan” sebagai turis. Begitu pikir saya.

Biaya organized tour ini adalah AUD$650 selama 5 hari dan biaya ini sudah all in, kita tinggal bawa badan saja, dan saat itu saya pergi bulan may dan mendapatkan tiket pesawat Virgin Australia kembali ke Darwin dari Alice spring dengan harga tiket AUD$317. Biaya ini tidak termasuk biaya beli kopi  yang terdapat di roadhouse-roadhouse sepanjang perjalanan yah. Para peserta trip dijemput di hostel/hotel di Darwin pada pukul 6 pagi untuk memulai perjalanan road trip menuju red center. Saat itu hanya terdapat 6 orang peserta,  seorang bapak yang mirip dengan George Clooney dan anaknya yang mirip Ashton Kutcher yang berasal dari USA, 2 orang kakak beradik dari Belanda, 1 orang wanita dari Melbourne dan saya dari Indonesia.

Perjalanan menuju Alice spring memakan waktu 2 hari. Yah karena kami mampir-mampir dulu di sepanjang perjalanannya. Dalam perjalanan 2 hari ini, kami melalui kota-kota outback, seperti Katherine, Tennant Creek, Daly Waters, dimana Coles atau Woolworths menjadi satu-satunya oasis untuk mengisi kebutuhan sehari-hari.  Pemberhentian pertama kami adalah Edith waterfalls, di kawasan Katherine, dan dilanjutkan ke sebuah thermal spring di kawasan Tennant Creek. Jujur saja, perjalanan Darwin sampai dengan Tennant Creek ini cukup membosankan, hanya padang rumput kering dan pohon-pohon eucalyptus saja sejauh mata memandang.  Saya sedikit tertipu dengan kata “thermal Spring”,, ekspektasi saya yang namanya thermal spring itu akan seperti di Cipanas atau Ciater, tapi ternyata spring itu hanya sebuah kolam panjang air dingin.

Kami mengakhiri perjalanan hari pertama ini di sebuah country pub di Daly Waters. Menurut saya, kunjungan ke pub ini merupakan hal paling berkesan di hari pertama roadtrip.  Bukan karena segelas tap -beer tentunya, namun keunikan dari pub ini yang sangat bergaya country dengan band ber genre music country, design interiornya yang vintage dan para pengunjung yang sangat vintage juga tentunya. Mengunjungi pub ini, khayalan saya langsung menuju ke sebuah film-film holywood yang mengambil latar belakang di kota texas yang dipenuhi para cowboy yang memenuhi pub-pub country. Namun, jangan bayangkan cowboy-cowboy kece dengan body-body six-pack, kebanyakan yang memenuhi para pub ini adalah para grey nomad alias pria dan wanita Australia berumur yang sedang melakukan perjalanan road trip dengan campervan-campervannya. Sungguh amat sangat oldies. Satu-satunya generasi muda saat itu hanyalah para bartender-bartender dan rombongan kami. Selain pub, di tempat ini juga menyediakan akomodasi caravan, shared dorm dan campervan park. Dan kami mendapatkan fasilitas di shared dorm pada malam pertama roadtrip kami dengan menu makan malam barramundi burger.

IMG_3430IMG_3431IMG_3433IMG_3435IMG_3436IMG_3438IMG_3440IMG_3441

Di pagi hari, sekitar jam 5 pagi kami melanjutkan perjalanan kami, jadwal pertama kami adalah Devil’s Marble, sebuah kumpulan batu granite yang terbentuk dari erosi yang terjadi ribuan tahun yang lalu. Ukuran dari batu-batu ini memiliki tinggi dan lebar dari 50 cm sampai dengan 6 meter. Gundukan-gundukan batu ini terlihat seperti membentuk sebuah kepulauan-kepulauan di tengah padang pasir.  Tempat ini merupakan salah satu tempat yang masih dianggap suci bagi orang-orang Aborigin, mereka meyakini bahwa leluhur mereka masih menempati dan menjaga daerah ini. Konon, batu-batu ini masih aktif bergerak dan bererosi yang mengakibatkan landscapenya masih bisa mengalami perubahan. Jadi kalau kamu hari ini mengunjungi lokasi ini, landscapenya bisa jadi berubah ketika 5 tahun lagi kamu kembali ke tempat ini.

Hari kedua perjalanan cukup membosankan, karena tidak banyak destinasi yang kami kunjungi, bisa dibilang, kami hanya menghabiskan waktu kami menempuh perjalanan menuju Alice spring. Dan sejauh mata memandang, hanyalah hamparan tanah lapang luas dihiasi rumput-rumput kering. Tidak ada bukit berkelok-kelok, hanya sebuah jalan lurus dan datar. Itulah kenapa menyusuri perjalanan jauh melalui outback Australia lebih baik dilakukan beramai-ramai. Menyusuri Outback Australia tanpa seorang kawan, dan apabila kamu menyetir sendiri, akan ada resiko kecelakaan tunggal akibat mengantuk. Selain itu, tempat-tempat peristirahatan untuk kebutuhan penginapan, kopi, grocery dan bensin yang dikenal dengan nama “Roadhouse” jaraknya cukup jauh satu sama lain. Jadi pastikan kamu membawa bensin cadangan di mobil kamu dan pastikan keadaan mobil kamu prima. Selain tidak ada bengkel sepanjang perjalanan, signal telepon pun kadang tidak ada jika kamu membutuhkan pertolongan emergency. Apabila terjadi kondisi emergency, kamu hanya bisa berharap pertolongan dari para campers yang saat itu sedang melakukan perjalanan.

Kami menginap di salah satu backpacker hostel di Alice Spring untuk beristirahat satu malam sebelum memulai berpetualang ke tujuan utama kami, yang merupakan national park terbesar di Australia, yaitu Uluru-Katatjuta National park. Seusai shalat subuh, saya sudah bersiap-siap untuk dijemput di hostel oleh guide kami untuk menuju Uluru-Katatjuta national park. Di hari ketiga ini, peserta bertambah, kali ini rombongan kami digabungkan oleh rombongan tour yang mengambil paket 3D2N Alice Spring-Uluru-Alice Spring. Perjalanan menuju uluru national park ini memakan waktu sekitar 5 jam perjalanan. Di tengah perjalanan, kami berhenti di sebuah peternakan unta. Unta? Yah unta tidak hanya ada di negeri timur tengah saja. Australia pun memiliki unta. Darimana unta-unta ini berasal? Unta-unta ini sengaja didatangkan dari Afghanistan dan Pakistan. Pada saat itu, sekitar tahun 1800 sampai dengan awal 1900 terdapat proyek pembangunan kereta api di jalur tengah Australia dan pembangunan telegraph yang banyak mempekerjakan imigran-imigran Afghanistan dan negara-negara timur tengah lainnya.  Unta dianggap hewan yang paling mampu bertahan di daerah gurun Australia yang panas, kering dan sedikit sumber air sebagai moda transportasi untuk mengantarkan material dan supplies untuk mendukung proyek-proyek infrastruktur saat itu. Itulah mengapa, jalur kereta api pertama Australia yang menghubungkan Australia bagian utara dan Selatan ini dinamakan “The Ghan”. Logo “The Ghan” yang yang menggambarkan seorang pria afghanistan menunggang unta (An Afghan on the camel ) adalah sebuah pengakuan yang diberikan kepada imigran-imigran dari Afghanistan dan negara-negara timur tengah lainnya yang telah berjasa dalam membangun proyek infrastruktur di jantungnya Australia. Selain suku Makassar yang membawa pengaruh ajaran Islam ke tanah Australia pada saat melakukan hubungan dagang dengan suku aborigin, yakni suku Yolngu di Arnhem land, melalui camelers-camelers timur tengah ini jugalah pengaruh Islam masuk ke tanah Australia. Para Camelers ini  yang pertama kali mendirikan masjid di Australia di tahun 1800-an. Masjid yang saat ini bernama The Central Adelaide Mosque yang berlokasi di kota Adelaide merupakan masjid tertua di Australia dan masih beroperasi sampai saat ini.

IMG_3472IMG_3483IMG_3485

Dari peternakan unta kami menuju Kings Canyon yang merupakan bagian dari Wattarka National Park. Kings Canyon merupakan Grand Canyon-nya Australia.

Traveling ke bagian tengah benua Australia sudah seperti mengunjungi 2 benua di dunia ini sekaligus bukan? Sensasi timur tengah dengan keberadaan unta-untanya dan sensasi Amerika serikat dengan keberadaan country pub dan canyonnya.

Di hari ketiga ini, kami mulai merasakan camping di iklim gurunnya Australia. Di malam pertama camping ini, kami disuguhi makan malam yang sangat istimewa, yaitu kangaroo barbie. Inilah pertama kalinya saya merasakan daging kanguru. Kalau berdasarkan lidah saya, rasa daging kangguru itu seperti rasa ati sapi, teksturnya lebih lembut dari daging sapi namun tidak selembut ati sapi. Kami mempersiapkan makan malam kami secara bersama-sama dari mulai food preparation, memasak di tungku barbecue dan membereskan peralatan-peralatan makan kami. So…no full service dalam tour ini, namun kegiatan ini sangat menyenangkan dan membuat rombongan tour kami menjadi lebih hangat dan saling mengenal satu sama lain. Dan yang pasti membuat perjalanan ini menjadi lebih terkesan “Australian road trip adventure”.

Malam itu suhu udara mencapainya 11 derajat celcius. Iklim gurun yang kering, walau dingin cukup membuat saya sedikit dehidrasi ketika malam hari. Saya merasakan kehausan yang luar biasa, ludah saya seperti berhenti mengalir saat itu. Cukup aneh memang, biasanya ketika suhu dingin, kita cenderung lebih sedikit minum, namun berada di lingkungan terbuka dengan iklim gurun yang kering membuat kami harus mengkonsumsi lebih banyak cairan.

Kami memulai petualangan Uluru-Katatjuta di hari ke empat. Setelah selesai sarapan, kami bersiap-siap untuk mengeksplore Uluru Katatjuta National Park. Sama seperti Kakadu National Park, Uluru-Katatjuta National park ini merupakan salah satu warisan wisata alama dan budaya yang dilestarikan oleh UNESCO dan pemilik taman nasional ini adalah orang aborigin dari suku Anangu, dalam hal ini pemerintah Australia hanya berperan sebagai pengelola taman nasional. Lokasi Katatjuta National Park berhadap-hadapan dengan lokasi batu merah raksasa Uluru. Dari Katatjuta, kami bisa menyaksikan batu Uluru dari kejauhan. Katatjuta national park merupakan fenomena batu-batu monolith raksasa yang menjulang tinggi.

IMG_3560IMG_3564IMG_3573IMG_3575IMG_3668IMG_3670

Hari keempat ini akan diakhiri dengan menikmati segelas champagne sambil menyaksikan matahari terbenam di balik batu raksasa uluru. Namun sayang, saat itu cuaca kurang mendukung rencana kami. Sepanjang sore itu, awan mendung menutupi seluruh wilayah uluru. Namun backdrop batu raksasa itu tetap cantik sebagai latar belakang foto-foto kami.

 

Kami cukup khawatir ketika langit sore itu mendung. Kami khawatir hujan akan turun karena malam itu kami tidak akan tidur di tenda namun langsung di alam terbuka dengan hanya berbalutkan sleeping bag tebal yang mereka sebut “Swag”. Bayangan saya untuk menikmati malam penuh dengan cahaya bintang akan sirna. Namun, dewi fortuna masih menyelamatkan rencana kami. Walau kami tidak mendapatkan sunset, malam itu langit sangat bersahabat. Saya banyak menyaksikan milky way bertebaran di langit uluru malam itu. Namun sayang, saya kurang mahir menggunakan kamera saya untuk menangkap moment special yang pergerakannya sangat cepat ini. Milky way ini bisa berpindah-pindah dari satu spot ke spot lainnya, sangat dibutuhkan keahlian dan tripod yang mumpuni untuk mengoperasikan kamera agar tidak kehilangan moment milky way yang berlangsung sangat cepat dan berpindah-pindah spot ini. Saya tidak bisa tidur malam itu,bukan karena saya banyak pikiran atau menderita insomnia, tapi karena saya tidak sanggup untuk memejamkan mata saya dari keindahan langit Tuhan yang sangat mengagumkan ini.

Saya berharap besok pagi langit bisa secerah malam ini, karena kami tidak ingin mengulangi kegagalan sunset kami. Tidak dapet sunset, kami harus mendapatkan sunrise yang sempurna. Melihat sunrise itu pengorbanannya lebih besar daripada melihat sunset. Jam 5 pagi kami sudah bersiap-siap untuk melihat matahari terbit di sebelah timur uluru. Dan Tuhan menjawab doa saya, pagi itu kami masih melihat banyak bintang bersinar, pertanda kalau langit akan cerah hari ini. Here it is…Tuhan sedang memberkahi umat-Nya…Dia melukis sebuah keajaiban di tanah uluru ini, seakan ini memberikan hadiah ulang tahun untuk seorang gadis bahagia berusia kepala tiga.

IMG_3663IMG_3665

Northern Territory sepertinya memang surga matahari terbit dan tenggelam. Fenomena matahari terbit  dan terbenam di Northern territory dari mulai  Darwin, Kakadu sampai Uluru tak pernah mengecewakan. Mungkin Northern Territory ini memang jantungnya Australia, tempat dimana sebuah kehidupan di Australia pertama kali hadir di muka bumi.  Sebelum para imigran-imigran berdatangan ke Australia.

Berbicara tentang awal mula kehidupan Australia, saya jadi ingat cerita salah satu guide yang bercerita tentang keyakinan yang dianut oleh suku aborigin, yakni sebuah konsep kepercayaan yang dinamakan “dreamtime”. Dreamtime merupakan sebuah konsep yang diyakini oleh suku aborigin mengenai awal mula terciptanya bumi dan bagaimana manusia, hewan dan tanaman pada akhirnya tercipta di bumi ini. Pada awalnya bumi merupakan sebuah permukaan yang flat,gelap dan mati. Sampai pada akhirnya kekuatan supernatural leluhur mereka lahir dan keluar dari dalam bumi, mematahkan lapisan-lapisan kerak bumi dan terdengar suara gemuruh. Matahari naik ke permukaan tanah dan inilah saat dimana  pertama kalinya tanah mendapatkan cahaya matahari. Kekuatan supernatural inilah yang mereka percaya menciptakan bumi dan segala isinya termasuk manusia. Itulah mengapa, mereka memiliki konektivitas spiritual yang kuat terhadap tanah-tanah mereka. Mereka meyakini bahwa tanah adalah sebuah titik awal dari kehidupan manusia dan kepada tanahlah mereka juga akan kembali.

Namun sayang sekali, terkadang apa yang dipercaya oleh orang-orang aborigin diabaikan baik oleh para turis maupun pemerintah Australia sebagai pengelola taman nasional park. Salah satunya adalah larangan untuk climbing menaiki batu uluru. Suku aborigin sebagai pemilik tradisional tanah uluru melarang para pengunjung untuk climbing menaiki uluru, karena tempat itu merupakan salah satu tempat suci mereka, dan orang-orang aborigin juga dalam tulisannya memberitahukan bahwa uluru sangat berbahaya untuk dinaiki dan tidak sedikit orang-orang yang telah menjadi korban karena mereka mengambil resiko untuk tetap memanjat tempat suci itu. Saya sendiri, memilih untuk tidak menaiki batu raksasa tersebut baik atas dasar penghormatan terhadap budaya dan kepercayaan orang-orang aborigin maupun atas alasan keamanan. Saya memilih untuk mengelilingi batu raksasa tersebut. Dan ternyata batu raksasa itu terbentang sangat luas. Dibutuhkan sekitar 2 1/2 jam untuk mengelilingi batu raksasa tersebut. Tidak dibutuhkan keahlian fotografi untuk menangkap keindahan suasana gurun dengan sebuah bentangan batu yang menjulang tesebut. Keindahan yang apa adanya, bersahaja, namun memukau dan misterius. Itu yang saya rasakan ketika mengelilingi batu raksasa tersebut.

IMG_3540IMG_3679IMG_3688IMG_3695IMG_3701IMG_3703IMG_3718

Melakukan roadtrip menyusuri outback Australia di wilayah Northern Territory ini adalah sesuatu diluar rencana awal saya. Ketika saya masih di Indonesia, saya tidak pernah mengenal apa itu Kakadu, apa itu uluru, yang saya tau uluru hanyalah sebuah batu besar tak berarti dan sepertinya tidak terlalu worth it untuk berkunjung sejauh itu hanya untuk melihat sebongkah batu. Saya memutuskan untuk datang ke Darwin for the sake of finding job with a good pay, katanya. Sebelumnya, saya tidak pernah tau dan merasa tidak perlu tau tentang orang-orang aborigin. Yang saya tau mereka hanyalah sekelompok kecil orang-orang “tertinggal” di Australia yang sering membuat keonaran dan mabuk-mabukan. Saya tidak akan pernah tau bahwa kita, orang-orang Indonesia ternyata memiliki sejarah yang terkoneksi dengan salah satu clan suku aborigin, saya tidak pernah tau kalau orang-orang aborigin ini sebenernya orang-orang yang memiliki spiritualitas, yang percaya akan kekuatan semesta sebagai pengatur bumi ini. Dan saya tidak akan pernah tau bahwa ternyata orang-orang afghanistan, yang selama ini memiliki image negative dengan isu terorisme, ternyata berkontribusi besar dalam pembangunan infrastruktur Australia.

Mungkin saya akan dibilang basi oleh sebagian orang kalau saya bilang traveling itu membuat kita bisa mematahkan segala stereotype tentang ras, agama dan keyakinan tertentu, dan pada akhirnya membuat kita menghargai perbedaan. Melihat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebagai individu yang memiliki hak untuk hidup, memiliki pilihan dan keputusan atas apa yang dipercayanya. Tapi itu memang terjadi. Dan saya jadi teringat sebuah percakapan dalam film  India “My name is Khan” antara Khan dan ibunya : “there are only 2 type of human in this world, the good one and the bad one, whatever their race or religion”. Loh..kenapa jadi nyambung ke film india yahhh???:D

See u again in my next post!

Instagram : @ririn_kerinciwati

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s